Vegetarian Jadi Tren? Mengapa Tidak?

YOGYAKARTA, KOMPAS.comBanyak orang menganggap vegetarian tidak perlu menjadi tren. Bahkan, ada sebagian orang yang waswas jika vegetarian menjadi tren baru, justru akan membuat orang makin tidak sehat dan kurang gizi. Anggapan itu jelas amat lucu sekaligus memprihatinkan.

"Vegetarian menjadi tren, mengapa tidak? Menjadi vegetarian adalah pilihan, pilihan untuk memulai hidup sehat meski baru sebatas mengubah menu makan sehingga tak ada yang salah jika vegetarian menjadi tren," ujar Lusia Anggraini, dokter umum, yang juga staf ahli Indonesia Vegetarian Society (IVS) Yogyakarta.

Dengan kata lain, vegetarian justru semestinya mulai menjadi tren. Pakar pangan tradisional yang juga pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian UGM Prof Murdijati Gardjito, beberapa waktu lalu, menyebut bahwa di negara negara maju, vegetarian sudah menjadi tren.

Lusia melanjutkan, banyak alasan mengapa vegetarian, atau sebisa mungkin jauh mengurangi konsumsi daging, mesti dijalankan. Alasannya dari sisi kesehatan, penghematan energi dan uang, hingga mengurangi dampak pemanasan global.

"Mengapa tidak mempermasalahkan mengapa rokok terus menjadi tren? Rokok kan berbahaya juga bagi kesehatan. Aneh dan tak masuk akal kan jika vegetarian jangan sampai menjadi tren, tapi rokok dibiarkan terus menjadi tren," kata Lusia.

Ketua Operasional IVS yang juga ahli nutrisi, Susianto, berpendapat senada. "Saya yakin, mereka yang belum menyadari bahaya daging, termasuk ikan, tak pernah mencari informasi lewat internet. Atau, mereka sudah tahu, tapi memang sudah sulit meninggalkan budaya makan daging. Ada juga yang mengaitkan vegetarian dengan ajaran agama tertentu, nah yang ini jelas terlihat pemikiran orang yang sempit," kata Susianto.

Lusia memaparkan, keengganan orang melihat sisi positif vegetarian adalah karena tempat penjagalan hewan sengaja diletakkan di tempat yang tertutup dan tak mudah terlihat dari permukiman. Ini membuat orang pelan-pelan "dibunuh" rasa perikemanusiaannya karena tak perlu melihat penderitaan hewan kala disembelih, dan tak perlu berpikir.



Editor: Glo Laporan wartawan KOMPAS Lukas Adi Prasetya

0 Komentar:

Poskan Komentar