ASI & Imunisasi, Maksimalkan Tumbuh Kembang Anak


ASI (air susu ibu) dan imunisasi punya peranan penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara maksimal. Asalkan, imunisasi dilakukan secara teratur dan ASI diberikan hingga anak berusia 6 bulan.

"Berikan bayi ASI sejak bayi lahir sampai 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga 2 tahun," ucap Ketua Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi, Sp A, MARS.

Memang, ASI kaya akan berbagai nutrisi penting dan bisa memperkuat daya tahan tubuh yang dibutuhkan bayi untuk masa pertumbuhan. Partiwi menjelaskan bahwa setiap ibu berpotensi menyusui bayinya. Namun, banyak orang menduga bahwa menyusui adalah proses yang bersifat alamiah dan tidak perlu dipelajari.

Tuhan memang memberikan sarana kepada wanita untuk bisa menyusui, tetapi menyusui perlu persiapan jauh sebelum kelahiran sehingga proses menyusui dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dapat dilakukan.

ASI adalah cairan biologis kompleks yang bersifat spesifik dan mengandung semua nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan fisik dan perkembangan anak, yang disesuaikan dengan keperluan, laju pertumbuhan, dan kebiasaannya menyusu.

"Bayi memperoleh nutrisi terbaik, perlindungan terhadap infeksi dan stimulasi sejak dini dari proses menyusui," tuturnya di acara Temu Media yang mengambil tema "Peran Air Susu Ibu (ASI) dan Imunisasi untuk Masa Depan Anak Indonesia yang Sehat dan Berkualitas'' di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pada awal kehidupan bayi, fungsi saluran pencernaan belum sempurna.Beberapa enzim dihasilkan untuk mengolah makanan yang dikonsumsi, dan enzim tersebut akan sempurna setelah bayi berusia 16 minggu. Dalam ASI telah tersedia berbagai macam enzim yang akan membantu proses penyerapan ASI. Seperti zat kekebalan seperti b dan Imunoglobulin (Ig) A sekretorik juga terdapat di dalam ASI, membuat bayi yang mendapat ASI jarang mengalami infeksi pencernaan.

"Faktor yang menentukan kecerdasan anak sebagian ditentukan oleh genetik atau keturunan dan sebagian lagi ditentukan oleh makanan, stimulasi, pendidikan dan lainnya," tutur dokter lulusan Universitas Indonesia dengan spesialisasi neurologi anak ini.

Selanjutnya, Partiwi juga mengatakan di saat menyusui banyak stimulasi yang diterima oleh seorang bayi. Proses inisiasi menyusui dini yang dilakukan di awal proses kehamilan, merupakan proses stimulasi yang melibatkan pancaindra bayi.

Pelukan, belaian atau sentuhan yang diterima pada permukaan kulit bayi, suara ibu atau degup jantung ibu yang bervariasi akan memberi stimulasi tersendiri pada indera pendengaran bayi. Tatapan mata ibu pada bayi juga akan merangsang indra penglihatan yang akan memberi stimulasi khusus lainnya.

Cairan lainnya yang juga sulit ditiru adalah variasi keasaman atau basa ASI akan memengaruhi rasa dan memberi stimulasi terhadap indera pengecap dalam mulut bayi sesuai yang dimakan oleh ibu. "Yang terpenting adalah skin to skin contact," dijelaskan Partiwi.

Sementara itu, ketua Satgas Imunisasi IDAI Prof DR Dr Sri Rezeki S Hadinegoro, SpA (K), mengatakan bahwa selain ASI yang menjadi hal terpenting untuk kesehatan anak di masa depan adalah imunisasi.

Imunisasi merupakan investasi kesehatan masa depan. Karena itu, menjadi tugas orangtua dan masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan anak yang terbaik termasuk membantu melaksanakan program imunisasi nasional.

"Imunisasi dapat melindungi anak dari serangan berbagai penyakit," tandasnya di acara yang sama.

Sri menjelaskan, imunisasi juga dapat merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. Pemberian imunisasi dan ASI sebenarnya merupakan suatu bentuk tanggung jawab orangtua untuk kehidupan kesehatan anak mereka.

"Setiap anak berhak untuk mendapatkan perlindungan yang dapat diperoleh dari pemberian imunisasi sehingga kesempatan mereka untuk belajar, bermain, dan beraktivitas bebas tanpa gangguan kesehatan yang seharusnya bisa diminimalisasi", papar dokter yang juga merupakan Ketua Komite Nasional Penanggulangan & Pengkajian Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KOMNAS PP KIPI).

Terdapat beberapa hal yang menghalangi dilakukannya imunisasi pada bayi yakni negara-negara berkembang sangat tertinggal dalam hal cakupan imunisasi, sulitnya menjangkau populasi yang tidak dapat terakses dan juga yang menolak imunisasi, adanya persepsi negatif terhadap imunisasi, kegagalan vaksin-vaksin baru dan desas-desus yang semuanya menjadi pertanyaan tentang keamanan imunisasi.

"Karena itu, edukasi kepada masyarakat melalui media penting dilakukan," ujarnya.

Pemikiran negatif atau pro dan kontra mengenai imunisasi sebenarnya bukanlah hal baru dan terjadi di berbagai negara sejak pertama diperkenalkan oleh Edwar Jenner di Inggris,pada awal 1800-an. Sri menjelaskan,masalah pemberian imunisasi biasanya muncul dalam hal keamanan.

Hal ini sangat tergantung pada praktik di lapangan, misalnya vaksin tidak dikocok dengan benar, maka setelah disuntik jadi mengeras, sering terjadi kesalahan dalam menyimpan vaksin sehingga tidak bisa bekerja efektif. Di samping itu,harus diperhatikan juga cara penyuntikannya.Dalam hal ini pemerintah sudah memberi panduan imunisasi dan telah diketahui oleh semua petugas pelaksana imunisasi.

"Banyak ibu yang mengeluhkan, bahwa anaknya demam setelah dilakukan imunisasi, untuk menghindari terjadinya hal tersebut, sebaiknya ibu yang telah selesai melakukan imunisasi jangan mengambil tindakan langsung pulang, tetapi ditunggu 15 menit untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa-apa pada bayinya," jelasnya. (Koran SI/Koran SI/nsa). OKEZONE.


0 Komentar:

Poskan Komentar