Penderita Influenza A H1N1 Terus Meningkat

KASUS flu babi atau influenza A H1N1 terus meningkat di Indonesia. Sebaiknya, waspadai gejalanya karena penularan penyakit ini semakin merajalela di Amerika Serikat dan Meksiko.

Influenza babi atau "flu babi" awalnya merupakan penyakit respirasi akut sangat menular pada babi yang disebabkan salah satu virus influenza babi, termasuk di antaranya virus influenza tipe A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2.

Angka kesakitan akibat infeksi virus yang menyebar di antara babi melalui udara, baik dengan kontak langsung maupun tidak langsung dengan babi pembawa virus itu, cenderung tinggi pada populasi babi,tetapi tingkat kematian akibat penyakit ini rendah, antara 1-4 persen.

Kejadian flu babi pada populasi binatang tersebut umumnya sepanjang tahun, dengan peningkatan kejadian pada musim gugur dan dingin. Berdasarkan data terbaru yang dikeluarkan Departemen Kesehatan per 25 Juli 2009, kasus positif influenza A H1N1 bertambah 19 kasus, yakni penderita terdiri atas 11 pria dan 8 wanita.

Para penderita yang diketahui berasal dari enam provinsi, yaitu DKI Jakarta (3 kasus), Jawa Barat (6 kasus), Jawa Tengah (3 kasus), Jawa Timur (3 kasus), Sulawesi Selatan (2 kasus), dua kasus di antaranya warga negara asing (WNA) yang dilaporkan berada di Bali.

"Dari total kasus tersebut, terdiri atas 17 WNI dan 2 WNA. Yang memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebanyak enam orang, yaitu ke Arab Saudi, Australia, Belanda, Jepang, Maroko, dan Singapura," tutur Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depkes Prof Tjandra Yoga Aditama SpP (K), MARS.

Karena itu, hingga 25 Juli 2009, secara kumulatif kasus positif influenza A H1N1 di Indonesia berjumlah 362 orang, terdiri atas 204 pria dan 158 wanita.

Data kasus berdasarkan tanggal pengumuman, yaitu 24 Juni (2 kasus), 29 Juni (6), 4 Juli (12),7 Juli (8), 9 Juli (24), 12 Juli (12), 13 Juli (22), 14 Juli (26), 15 Juli (30), 16 Juli (15), 20 Juli (15), 22 Juli (67), 23 Juli 2009 (83), dan 24 Juli 2009 (21).

Adapun jumlah provinsi yang sudah ditemukan kasus positif sampai hari ini ada 14 provinsi, yaitu di Bali, Banten, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kepri, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

Dari 21 kasus tersebut di atas, seorang anak perempuan usia enam tahun dirujuk dari salah satu RS swasta di Jakarta ke salah satu RS pemerintah di Jakarta pada 19 Juli 2009, dengan keluhan demam, batuk, sesak napas, dan badan lemah.

Dalam perawatan di rumah sakit, keadaan pasien terus memburuk dan akhirnya meninggal pada 22 Juli 2009. Anak ini sejak beberapa tahun yang lalu mengalami gangguan kesehatan dan delayed development.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan dan pengobatan, gambaran rontgen, dan laboratorium, pasien ini menderita pneumonia berat dan hasil pemeriksaan Polymerase Chain Reaction menunjukkan positif Influenza A H1N1," ujar Tjandra.

Influenza A H1N1 ditularkan melalui kontak langsung dari manusia ke manusia melalui batuk, bersin, atau benda-benda yang pernah bersentuhan dengan penderita, karena itu penyebarannya sangat cepat. Akan tetapi, angka kematiannya di seluruh dunia rendah yaitu 0,4 persen. Namun demikian, masyarakat diminta tetap waspada menghadapi pandemi influenza A H1N1.

Beberapa cara pencegahan bisa dilakukan, seperti berperilaku hidup bersih dan sehat, yang ternyata mempunyai andil besar untuk ikut mencegah penularan virus yang menular dari manusia ke manusia untuk pertama kalinya terdeteksi di Asia yang terjadi di Korea Selatan ini.

Perilaku tersebut di antaranya mencuci tangan dengan sabun atau antiseptik, serta melaksanakan etika batuk dan bersin yang benar.

Apabila ada gejala Influenza minum obat penurun panas, gunakan masker dan tidak ke kantor, ke sekolah atau ke tempat-tempat keramaian serta beristirahat di rumah selama lima hari. Berdasarkan hasil riset Universitas New South Wales (UNSW) Australia yang diumumkan tim peneliti, penggunaan masker medis terbukti efektif melindungi masyarakat menghadapi wabah penyakit menular, seperti flu burung dan flu babi.

Laporan hasil uji klinis tim peneliti UNSW yang dikeluarkan Pejabat Humas UNSW, Steve Offner, menyebutkan pemakaian masker medis juga merupakan cara paling murah untuk melindungi masyarakat menghadapi epidemi flu babi dan flu burung saat stok vaksin kosong atau sangat terbatas.

"Penggunaan masker medis juga dapat menekan risiko penularan berbagai macam penyakit menular," tutur Offner. Tjandra berpesan, apabila dalam dua hari flu tidak juga membaik, segeralah melakukan pemeriksaan ke dokter.(Koran SI/Koran SI/nsa) OKEZONE.COM.

0 Komentar:

Poskan Komentar