Limbah Plastik Kini Mudah Dihancurkan


Jakarta, Plastik merupakan sampah nomor satu yang jadi musuh lingkungan. Materinya yang susah diuraikan membuat tumpukan sampah plastik terus menggunung. Perlu waktu ratusan tahun mengurai sampai plastik oleh mikroba dalam tanah.

Tapi kini limbah plastik mudah dihancurkan dan bisa terdegradasi dalam waktu 4-8 minggu dan bisa menyatu dalam tanah. Penguraian limbah plastik dengan cepat itu memungkinkan dengan menggunakan teknologi nano.

Teknologi nano yang digunakan di sini adalah penambahan nano kalsium karbonat sebagai filler pada lembaran plastik. Cara kerjanya, mikroorganisme akan mengurai plastik dengan proses erosi secara perlahan.

Semakin kecil ukuran partikel kalsium karbonat (sekitar 50 nm), maka semakin besar kontak mikroorganisme dengan plastik. Artinya proses erosi juga semakin besar, sehingga plastik menjadi lebih mudah terurai secara biologis.

"Teknologi ini sangat ramah lingkungan, karena plastik yang biasanya hanya bisa terurai dalam waktu ratusan tahun bisa terdegradasi dalam waktu beberapa bulan," kata Sekjen Masyarakat Nanoteknologi Indonesia (MNI) Dr.Eng. Agus Haryono ketika dihubungi detikHealth, Rabu (16/12/2009).

Sebetulnya, bentuk nano partikel itu seperti bubuk, tetapi setelah diformulasikan ke dalam formula plastik maka bentuknya adalah lembaran plastik.

Formula nanoteknologi untuk sampah,--yang merupakan hasil kerjasama peneliti LIPI, BATAN dan Balai Besar Kimia dan Kemasan Deperin--, ini dibuat beragam. Semakin besar kandungan nanonya, plastik akan semakin cepat terurai. Tetapi sifat plastis dan sifat transparannya akan berkurang.

"Jadi perlu formula yang tepat, sesuai dengan keinginan dari pengguna plastik tersebut. Sampai saat ini masih belum ada nama khusus untuk produk nanoteknologi sampah ini. Bentuk kemasan secara khususnya juga belum ada, masih berupa lembaran plastik," tutur Agus.

Pakar polimer kimia LIPI itu mengatakan, semua plastik baik ukuran besar, sedang atau kecil bisa menjadi lebih mudah terdegradasi secara biologis dengan penambahan partikel nano.

Sampah plastik ini apabila sudah dihancurkan (secara biologis) maka bisa kembali ke tanah. Apabila plastik ini didaur ulang menjadi plastik biodegradable juga aman dipakai konsumen karena filler plastik ini adalah kalsium karbonat yang tidak beracun.

"Memang harga jual plastik biodegradable akan lebih mahal dari plastik konvensional. Oleh karena itu harus ada kebijakan dari pemerintah untuk memberikan kuota terhadap plastik biodegradable supaya lebih terjangkau oleh masyarakat luas," ungkap pria yang mengambil gelar S1, S2 dan S3 di Waseda University, Jepang.

Teknologi plastik biodegradable menurut Agus memang lebih mahal daripada teknologi untuk plastik konvensional. Di beberapa negara maju seperti Eropa misalnya, bioplastik dijual di supermarket dengan harga 8-10 kali lipat lebih tinggi dibanding harga plastik biasa.

"Tetapi masyarakat di Eropa masih mampu dan mau membeli bioplastik ini meskipun harganya jauh lebih mahal. Meski mahal harga sebesar itu masih terjangkau untuk mereka selain kesadaran lingkungan masyarakatnya juga sangat tinggi," jelas pria kelahiran Pamekasan, 21 Februari 1969.

Sedangkan di Jepang, pembungkus plastik sebagian besar sudah diberi tambahan kalsium karbonat untuk menambah kecepatan urainya.

Di Indonesia, masih sangat sulit untuk menjual bioplastik yang mahal kepada publik karena daya beli masyarakat dan kesadaran lingkungan yang relatif masih rendah.

"Maka itu pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup harus terus mendorong kesadaran publik ini, sekaligus memberikan subsidi supaya harga bioplastik lebih terjangkau," kata Agus.

Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA), menurut Agus juga sangat cocok menggunakan teknologi ini tapi untuk mewujudkannya perlu dukungan dari pemerintah. "Untuk plastik yang akan dibuang ke TPA memang sebaiknya memakai teknologi ini," katanya.

Teknologi nano kini sudah mulai diterapkan di berbagai industri nasional seperti industri keramik, industri tekstil, industri kosmetik, industri pangan, dan industri cat. Menurut kajian Departemen Perindustrian, saat ini 33-35 persen industri nasional sudah menerapkan nanoteknologi di bagian produksinya. Penelitian tentang teknologi nano di beberapa lembaga penelitian seperti LIPI juga sudah mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun swasta.

"Dana riset dari pemerintah cukup, demikian juga kerjasama riset dengan swasta, tentang pengembangan teknologi nano mulai banyak dilakukan," katanya.(ir/ir) photo by guim.co.uk detik.com

0 Komentar:

Poskan Komentar