Selasa, 09 Februari 2010

Hacker Muda yang Sukses Berbisnis


Bisnisnya tergolong unik dan kreatif, juga baru saja dijalani hampir tiga tahun. Namun, dalam tempo singkat, modalnya berkembang pesat hingga 50 kali lipat. Bahkan, dia pun meraih penghargaan sebagai wirausaha muda andalan.
Itulah Atthur Sahadewa Widjaja, seorang wirausaha muda yang bergerak di industri kreatif. Di kisaran usia 30-an tahun, bisnis yang dirintis dan digelutinya sukses berkembang pesat.
Padahal, ini cuma berawal dari hobi main internet dan utak-atik software antivirus sejak awal kuliah teknik informatika dari Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta pada 2000. Kegemarannya terusik saat muncul virus hallo.roro merusak file-file sampai 10 megabite pada awal 2007. Saat itu, dia pun meneliti dan membuat antivirus untuk menyembuhkan serangan virus tersebut.
Kemudian, giliran virus Brontox menyerang. Lagi-lagi, dia meneliti, menemukan antivirusnya, sekaligus membuat tutorial untuk menghapusnya. Namun, daripada susah-susah mengikuti panduan, Atthur kemudian software antivirus gratisan yang dimuatnya di virologi.info.
"Saya juga membuat bukunya agar orang tidak penasaran," kata Atthur saat dihubungi
VIVAnews di Jakarta, Senin malam, 8 Februari 2010. Ketika buku diterbitkan, dia senang karena mendapatkan sambutan luar biasa. Buku berjudul "Seni Pemrograman Virus" itu sudah dicetak hingga 10 kali dimana setiap kali cetak 2000 eksemplar.
Sukses membuat buku antivirus, pria yang hobi main internet itu kemudian membuat dan menerbitkan buku lainnya. Di antaranya adalah "Empat Hari Jadi Hacker", buku kisah pengalamannya menjadi hacker ini dicetak 14 kali, setiap kali cetak sebanyak 2.500 eksemplar.
Buku lain ciptaannya yang juga best seller adalah "Monalisa Pun Tertawa" Ini adalah buku tentang teknik melakukan hacking atau meretas yang dibungkus dalam sebuah bingkai cerita. "Jadi ini kisah bagaimana memakai tools-tools di komputer dan internet untuk hacking yang dibumbui cerita."
Namun, dia mengingatkan meskipun cerita itu mengajarkan kisah tentang hacker, tetapi juga menekankan sisi-sisi positif. "Jadi, saya tidak mendorong orang untuk menjadi hacker loh. Itu kesannya jelek seperti pembobol ATM gitu."
Kendati sempat berpengalaman sebagai hacker, Atthur pun kini enggan disebut sebagai sebagai sosok peretas. Dia lebih senang disebut sebagai praktisi hacking, yang berarti orang yang bekerja di dunia peretasan komputer. Jadi, sebagai praktisi justru sebaliknya, bisa juga sebagai orang yang justru melindungi dari serangan hacker. 

Sebagai praktisi hacking, dia mengingatkan soal data-data pemerintah yang mudah dibobol di internet. Misalnya saja soal pagu anggaran laporan keuangan pemerintah yang seharusnya tersembunyi. Data-data itu dengan mudah diunduh dari google. Padahal, data tersebut sangat riskan disalahgunakan.
"Kalau orang berniat buruk, bisa saja data-data itu disatukan menjadi laporan keuangan indonesia," kata pria jebolan teknik informatika dari Institut Sains & Teknologi Akprind Yogyakarta pada 2006 ini. "Itu kan bahaya kalau jatuh ke tangan orang asing yang berniat buruk pada Indonesia."
Begitupula dengan data-data perkiraan sebuah perusahaan. Dia menyebutkan contoh dua perusahaan otomotif. Dia mengatakan dari data-data di website mereka bisa diketahui forcasting data perusahaan itu. "Pesaing kan bisa saja menyewa pencuri data untuk ambil data itu, untuk menggempur saingannya."
Setelah hampir tiga tahun berjalan, bisnis yang berawal dari hobi main internet kemudian berkembang pesat. Dengan modal awal Rp 8 juta pada 2007, bisnisnya pun melejit. Sekarang total asetnya Rp 400 juta.
Usahanya mencakup software untuk melindungi server dari serangan hacker, pengembangan "sistem operasi bandit", jasa security internet, serta usaha pembuatan buku. Mitranya juga sudah banyak, seperti LIPI, Badan Informasi Strategis, lipi, Badan Rekonstruksi Aceh dan lainnya.
"Di perusahaan saya, sekarang ada 4 karyawan tetap dan 9 freelance," kata pria yang pernah DO dari di Politeknik Manufaktur ITB-Swiss karena salah ambil jurusan teknik mesin ini. Tahun ini, dia berniat membuka kantor sendiri di Jojakarta. "Saya juga sudah umroh, nikah, dan membeli mobil dengan duit hasil keringat sendiri."
Bahkan, dia juga memenangkan kompetisi wirausaha Mandiri. Dia terpilih untuk kategori wirausaha Mandiri kreatif yang membuat produk anti virus dan keamanan internet untuk memberi kontribusi bermanfaat bagi masyarakat. "Saya dapat hadiah Rp 20 juta."

heri.susanto@vivanews.com
VIVAnews

0 Komentar:

Poskan Komentar