Minggu, 24 Januari 2010

Bumi Tidak Aman dari Asteroid



INILAH.COM, Jakarta - Laporan setebal 134 halaman yang dirilis National Academy of Sciences AS menunjukkan manusia tidak siap menjaga bumi dari kehancuran akibat jatuhnya asteroid.
Laporan berjudul "Mempertahankan Planet Bumi: Obyek Dekat Bumi dan Strategi Mitigasi Bencana’ yang dikeluarkan ilmuwan di National Research Council itu menyebut dana US$4 juta yang dihabiskan Amerika Serikat untuk mengidentifikasi semua asteroid berbahaya dekat bumi tidak cukup melakukan tugas yang diamanatkan Kongres di 2005.
NASA membutuhkan lebih banyak dana untuk menghadapi tantangan. Hanya terdapat dana kurang dari US$1 juta saat ini untuk meneliti cara-cara menghindari jatuhnya batuan ruang angkasa ke bumi dengan menggunakan pesawat ruang angkasa atau mengembangkan teknologi menangkis asteroid.
"Kita tidak mencari yang kecil yang dapat menyebabkan kerusakan besar di bumi," kata Mike A'Hearn astronom dari University of Maryland, yang membantu memimpin komite menulis laporan itu.
"Mengapa tidak ada yang telah dilakukan?" tanya A'Hearn yang merupakan penyelidik utama misi Deep Impact 2005 NASA untuk mengetuk komet 9P/Tempel.
Ia mengatakan, tidak jelas apakah pemerintahan Presiden Barack Obama yang menyatakan dukungan pada sains akan menyediakan dana karena sedang berjuang melawan kemerosotan ekonomi dan defisit anggaran. AS menghabiskan sekitar US$4 juta per tahun untuk mencari benda dekat-bumi atau NEOs, yang mungkin terlalu dekat.
Pada 2005, Kongres memerintahkan survei lebih luas untuk menemukan 90% dari obyek dekat-bumi dengan diameter 140 meter atau lebih. Tapi Kongres tidak membiayai penelitian itu, termasuk mantan Presiden George W Bush maupun Obama yang meminta pendanaan untuk hal itu.
Kombinasi teleskop yang berbasis di darat dan ruang angkasa menjadi pilihan pertahanan paling ekonomis terhadap asteroid dan komet yang mengancam bumi. Tetapi pertahanan lebih maju yang melibatkan pesawat antariksa dan pertahanan ledakan nuklir perlu dilakukan di masa depan.
Laporan itu menyebutkan US$4 juta yang dihabiskan setiap tahun untuk mencari komet dan asteroid tidak cukup untuk memenuhi syarat yang diamanatkan pada NASA untuk mendeteksi obyek angkasa yang bisa mengancam bumi.
Sebuah asteroid atau komet dengan diameter 10 kilometer yang melanda semenanjung Yucatan 65 juta tahun yang lalu menyebabkan kehancuran global. Komet itu menjadi penyebab pemusnahan banyak spesies tanaman dan hewan termasuk dinosaurus.
Obyek besar menabrak bumi hanya sekali setiap 100 juta tahun. NASA menyatakan berhasil menyelesaikan deteksi beberapa asteroid pembunuh dengan teleskop. Tapi dengan lebih dari 6.000 benda-benda yang diketahui maka tugas itu sangat berat.
NASA juga diberi mandat melakukan survei obyek dengan diameter 140 meter karena ukuran itu bisa menyebabkan kerusakan regional. Dampak obyek seperti itu rata-rata terjadi setiap 30.000 tahun.
Laporan juga menyebut mitigasi yang bisa dilakukan, mulai dari pertahanan masyarakat yang berhubungan dengan evakuasi, tempat perlindungan dan sarana gawat darurat. Cara itu untuk mengatasi dari dampak komet atau asteroid ukuran kecil.
Metode menggunakan pesawat ruang angkasa juga disarankan. Caranya dengan mengerahkan gaya pada obyek target secara bertahap mengubah orbitnya, sehingga menghindari tabrakan dengan bumi.
Teknik dorong/tarik praktis hanya untuk obyek kecil berdiameter puluhan meter hingga kira-kira 100 meter, atau mungkin untuk benda berukuran sedang berdiameter ratusan meter. Tapi hal ini butuh peringatan puluhan tahun sebelumnya. Teknik dorong/tarik sejauh ini adalah yang paling siap dalam hal teknologi.
Sementara metode kinetik dengan menerbangkan pesawat ruang angkasa ke obyek untuk mengubah orbitnya. Cara ini bisa mempertahankan diri dari benda-benda berukuran sedang ratusan meter hingga 1 kilometer. Tetapi cara ini juga memerlukan peringatan dini hingga puluhan tahun.
Ledakan nuklir adalah satu-satunya cara praktis saat ini untuk menangani obyek yang besar, komet atau asteroid berdiameter lebih besar dari 1 kilometer. Cara ini juga sebagai cadangan dalam menangani obyek yang lebih kecil, jika metode lain gagal.
"Meskipun semua metode ini secara konseptual berlaku, tidak ada yang sekarang siap dalam waktu singkat. Pertahanan sipil dan kinetik mungkin paling dekat dengan kesiapan, tapi bahkan ini memerlukan studi tambahan sebelum ketergantungan pada mereka," sebut laporan itu. A'Hearn mengatakan setidaknya, langkah-langkah pertahanan sipil harus direncanakan.
Benda sebesar itu akan menciptakan bencana setara ledakan nuklir di langit, meniup pohon, gedung-gedung dan membunuh binatang dan orang-orang di bawahnya. Komet atau asteroid yang lebih besar bisa dibelokkan atau diledakkan, tapi butuh bertahun-tahun perencanaan untuk melakukannya. [mdr] Photo by Telegraph.co.uk Budi Winoto

0 Komentar:

Poskan Komentar