Jumat, 08 Januari 2010

Terpecahkan, Misteri Melahap Lubang Hitam




INILAH.COM, Jakarta - Foto sinar X dari lubang hitam yang sangat besar di tengah galaksi Bima Sakti membantu astronom menentukan mengapa lubang hitam itu sangat lapar.
Seperti halnya galaksi spiral dan elips lain di alam semesta, bandara galaksi Bima Sakti adalah sebuah lubang hitam sebagai jantungnya, disebut sebagai Sagittarius A*.
Sagittarius A* itu sekitar 26.000 tahun cahaya dan memiliki massa 4 juta kali matahari.
Gambar baru yang diambil Chandra X-ray Observatory dan dipublikasikan di pertemuan ke-215 Masyarakat Astronomi Amerika menunjukkan emisi sesi sinar X pusat galaksi sekitar 120 tahun cahaya.
“Tidak hanya menunjukkan bagaimana gambaran alam semesta sebenarnya, foto itu juga membantu menyelesaikan misteri mengapa lubang hitam melahap material langit sebanyak mungkin,” ujar Angota tim Chandra Roman Scherbakov dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian.
Sementara lubang hitam sendiri tidak terlihat, kehadirannya ditandai melalui efek gravitasi material yang mengelilinginya dan radiasi sinar seiring dengan akselerasi dan pembakaran material sebelum tersedot ke dalam lubang misterius tersebut.

Dalam tampilan gambar Chandra, gugusan bintang di sekitar lubang hitam terlihat dengan jelas. Angin bermuatan partikel yang dikeluarkan bintang memenuhi lubang hitam.
Astronom sebelumnya menghitung lubang hitam mungkin saja melahap hanya 1% dari angin yang datang dari bintang ini. Satu persen sepertinya kecil, tetapi jumlah gas sekecil itu membuat lubang hitam tampak lebih besar dan terang dibandingkan yang sebenarnya. 
Gambar Chandra yang diperoleh bersama degan model aktivitas memakan segala dari lubang hitam menunjukkan bahwa lubang hitam di galaksi Bima Sakti memakan 0,01% bintang di sekelilingnya.
“Jadi benar bila lubang itu selalu lapar,” ujar Shcherbakov.
Sedangkan perbedaan jumlah radiasi sinar X yang astronom lihat dan harapkan belum dijelaskan oleh ilmu fisika. Astronom mengetahui bahwa gas spiral yang berada di lubang hitam sangatlah panas. Prose konduksi menghasilkan panas yang sebelumnya tidak diteliti. Konduksi menyebabkan peningkatan panas di dalam gas yang akhirnya keluar, mengurangi radiasi yang dihasilkan lubang hitam. Proses tersebut juga menciptakan tekanan yang membantu angin bintang menghindar dari gravitasi lubang hitam secara bersamaan.
Jadi jelas ketika faktor konduksi masuk, emisi sinar X yang diharapkan dari lubang hitam dalam model cocok dengan pengamatan yang dilihat astronom. [ito]  Syamsudin Prasetyo Photo by Telegraph.com

1 Komentar:

Munawir mengatakan...

Dunia penuh misteri.

Poskan Komentar