Kamis, 14 Januari 2010

Akankah Teknologi 4G Sukses di Indonesia?



INILAH.COM, Jakarta - Indonesia akan menyambut teknologi WiMax dan LTE. Teknologi 3G saja disebut-sebut operator belum menikmati hasilnya dengan maksimal. Lalu apakah 4G akan berhasil?
Ada dua teknologi yang bersaing untuk menjadi 4G yaitu WiMax dan LTE (Long Term Evolution). Namun jika merujuk persyaratan IMT-Advance, kedua teknologi ini tidak bisa disebut sebagai 4G.
Yohanes Denny Strategic Intelligence Nokia Siemen Network mengatakan LTE adalah pre-4G karena tidak sepenuhnya comply dengan persyaratan IMT-Advance yang merupakan konsep standarisasi 4G.
Sementara WiMax juga tidak bisa dikategorikan sebagai teknologi 4G. Meskipun dari sisi kemampuan berupaya menyediakan spesifikasi ultra-broadband, tapi WiMax belum dinyatakan lolos dari requirements IMT-Advance.
Sementara parameter yang dipersyaratkan IMT-Advance & ITU (International Telecommunication Union ) 4G di antaranya harus memiliki peak data rata-rata 100 Mbit/s untuk yang sifatnya mobile. Sedangkan yang mobilitasnya terbatas atau nomadic harus memiliki kecepatan hingga 1 Gbit/s. Sementara bandwidth harus mencapai setidaknya 40 MHz.
Selain itu juga harus memiliki kemampuan komprehensif dan solusi berdasarkan IP (internet protocol) yang secure untuk menyediakan IP telephony, akses internet ultra broadband, layanan game, atau streaming HDTV multimedia.
Lalu bagaimana potensi teknologi WiMax dan LTE ini di Indonesia? Managing Director WiMAX Southeast Asia, Intel Corporation Werner Sutanto mengatakan 2010 merupakan tahun yang tepat untuk mengimplementasikan WiMAX terutama di Indonesia.
Ia memberikan alasan penetrasi broadband di Indonesia masih sangat rendah. Penetrasi broadband di rumah tangga masih kurang dari 2% dan kurang dari 0,5% dari total populasi. Sementara pengguna internet Indonesia diperkirakan telah mencapai 30 juta.
Padahal broadband telah terbukti sebagai salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi. Karena keterbatasan kabel tembaga untuk DSL dan perangkat broadband lainya di Indonesia, maka wireless broadband berupa WiMAX merupakan hal yang paling ideal.
Sementara dari sisi market, Indonesia sudah sangat siap menerima WiMax. Werner menyebut ada tiga faktor yang menjadi indikator utama potensi market WiMax di Indonesia. Ketiganya yakni, rendahnya penetrasi broadband, tingginya pengguna internet, serta tingginya pertumbuhan konsumsi PC atau notebook.
“Menurut hasil studi McKinsey di 2009, untuk setiap 10% pertumbuhan penetrasi broadband rata-rata menghasilkan 0,6% pertumbuhan GDP. Jadi hasilnya sangat signifikan,” ujarnya.
Lalu bagaimana dengan teknologi pesaing WiMax, LTE? Industry Manager Asia Pacific ICT Practice Frost & Sullivan, Marc Einstein kepada INILAH.COM mengatakan Indonesia masih belum perlu LTE. Hal itu karena pasar yang telah dicakup 3G baru mencapai 10%. Sementara jaringan 3G akan terus berkembang dalam hal jangkauan, serta kecepatan juga terus diupgrade.
Ia menilai penerapan LTE akan mengalami hambatan besar jika pemerintah tidak cukup memberikan frekuensi . Selain itu layanan ini memerlukan capex (belanja modal) awal yang tinggi, termasuk harga perangkat yang sangat mahal.
Sementara yang potensial untuk layanan LTE adalah untuk video streaming dan download. Selain itu juga membuka berbagai aplikasi baru misalnya dalam hal kesehatan, otomotif, logistik dan industri. “Layanan LTE akan menjadi mainstream di Indoensia. Karena LTE akan berkembang sebagai standar selular global,” kata Marc.
Namun Marc mengingatkan beberapa hal perlu dicermati sebelum implementasi LTE. Indonesia, menurutnya harus menunggu beberapa tahun ke depan sebelum meluncurkan LTE untuk mendapat keuntungan dari biaya yang lebih murah.
”Pemerintah tidak perlu memaksakan agar LTE tersedia lebih cepat,” imbuhnya. Ia menilai LTE tidak akan tersedia di Indonesia hingga 2013. “Market share akan kurang dari 5%,” imbuhnya.
Pengurus Mastel (Masyarakat Telematika Indonesia) Mas Wigrantoro Roes Setiyadi menilai implementasi WiMax akan berjalan lambat. Hal itu karena pemerintah masih ngotot dengan standar 16d dan tidak ada kelonggaran ketentuan TKDN (tingkat kandungan dalam negeri).
“Bagi saya Indonesia harus tegas dalam menerima berbagai jenis teknologi baru. Peran pemerintah hanya pada spektrum mana operator bekerja termasuk perizinannya. Dengan jelasnya posisi pemerintah dan operator, maka konsumen yang paling diuntungkan karena kualitas layanan akan semakin baik,” katanya.
Sementara Yohanes Denny mengatakan LTE masih mengalami kendala penerapan. Hal itu karena pemerintah sedang mengembangkan Wimax yang ingin lebih mengutamakan pengembangan konten lokal.
Dari sisi roadmap, Indonesia memiliki rencana 4G dan LTE. Namun saat ini pemerintah masih mengembangkan Wimax. Ia mengatakan pengembangan LTE lebih mudah, karena teknologi 3G tinggal menambah beberapa perangkat keras saja. “Dengan LTE akan lebih banyak daerah pedesaan (blank spot) bisa dipenuhi,” ujarnya. [mdr] Syamsuddin Prasetyo

0 Komentar:

Posting Komentar