Minggu, 31 Januari 2010

Mengapa Orang Bisa Kesurupan?



INILAH.COM, Yogyakarta - Kesurupan bukan disebabkan oleh makhluk halus, tetapi reaksi kejiwaan yang diakibatkan tekanan sosial, kata peneliti dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ayu Cahyaning Pramesti.
"Reaksi itu mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik ataupun mental," katanya saat menyampaikan penelitiannya tentang kesurupan di Yogyakarta.
Ia mengatakan, kesurupan adalah gejala gangguan jiwa pada seseorang yang diikuti oleh orang lain dan mengakibatkan hilangnya kepribadian yang asli. Fenomena kesurupan jika ditinjau dari sudut psikologis disebabkan oleh faktor kepribadian yang labil.
"Kesurupan dipicu oleh gejala psikis yang labil dan kosong karena kelelahan. Faktor sugesti juga dapat memengaruhi jika kesurupan itu terjadi secara massal," katanya.
Menurut dia, kasus kesurupan yang banyak menimpa pelajar SMA sederajat itu karena usia tersebut sedang berada di masa peralihan. Hal itu menyebabkan kondisi emosinya cenderung labil.
"Kondisi itu diperparah oleh beberapa faktor di antaranya rasa cemas yang berlebihan, ujian, kondisi sosial ekonomi, kondisi keluarga dan lingkungan," katanya.
Ia mengatakan, masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan. Suatu masa di mana tegangan emosi meninggi sebagai akibat perubahan fisik dan kelenjar. Meningginya emosi pada usia tersebut karena mereka berada di bawah tekanan sosial dan menghadapi kondisi baru.
"Padahal, selama masa kanak-kanak mereka kurang mempersiapkan diri menghadapi tekanan itu. Sebagian besar remaja mengalami ketidakstabilan dan kecemasan sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri terhadap pola perilaku dan harapan sosial yang baru," katanya.
Menurut dia, kecemasan adalah salah satu gangguan mental emosional. Keadaan itu berupa perasaan yang tidak menyenangkan, namun mempunyai fungsi pemberitahuan akan adanya bahaya.
"Kecemasan merupakan keadaan psikologis di mana individu berada dalam perasaan khawatir. Kecemasan lebih banyak terjadi pada perempuan dibanding laki-laki," katanya.
Ia mengatakan, salah satu upaya terapi yang bisa dilakukan untuk menurunkan kecemasan adalah melalui terapi relaksasi, baik tunggal maupun dikombinasikan dengan modalitas terapi lainnya.
Latihan relaksasi akan menurunkan ketegangan otot, menimbulkan perasaan nyaman, dan menurunkan tingkat kecemasan. Relaksasi merupakan suatu mekanisme yang dilakukan tubuh untuk mencapai ketenangan atau kondisi rileks.
Menurut dia, relaksasi yang mendalam melibatkan sejumlah perubahan fisiologis, seperti penurunan detak jantung, penurunan frekuensi pernapasan, tekanan darah, ketegangan otot, analisis berpikir, dan peningkatan ketahanan kulit.
Relaksasi yang melibatkan unsur keimanan akan menimbulkan respons yang lebih kuat dibandingkan dengan sekadar relaksasi tanpa melibatkan unsur keyakinan. Untuk orang Islam dapat memasukkan bacaan wirid sebagai unsur keimanan dalam terapi relaksasi.
"Hal itu diharapkan dapat menjadi terapi alternatif yang murah, mudah, dan dapat dilakukan sendiri untuk remaja dengan gangguan kecemasan, terutama yang rentan mengalami kejadian kesurupan," katanya.[*/ito] 

0 Komentar:

Poskan Komentar